Saatnya Kembali Work From Office, Para Pekerja di Amerika Serikat Hadapi Masa Lunchflation
Kembali ke kehidupan normal berangsur-angsur mulai diterapkan setelah pandemic Covid-19 telah terkendali. Demikian pula yang berlaku di Amerika Serikat, para pekerja kembali bekerja normal di kantor. Namun para pekerja di Amerika Serikat menghadapi ketidaknormalan, yang disebut oleh para pakar ekonomi sebagai lunchflation.
Kini di Amerika Serikat, jutaan karyawan kembali bekerja di kantor. Setelah dua tahun lamanya bekerja dari rumah selama pandemi Covid-19 melanda. Tantangan kembali bekerja di kantor tidak hanya kembali beradaptasi dengan ritme dan kebiasaan yang telah dilakukan selama dua tahun, para pekerja di Amerika Serikat dihadapkan dengan kenaikan pengeluaran akibat harga-harga kebutuhan melonjak. Dimulai dari biaya transportasi umum, kopi pagi, hingga makanan yang lebih mahal dari sebelum pandemi. Sebuah fenomena yang oleh para ekonom disebut sebagai lunchflation.
Inflasi atau kenaikan harga yang terjadi pasca wabah pandemi Covid-19 melanda, menyebabkan kenaikan pada biaya produksi barang dan jasa. Mulai dari harga bahan bakar hingga pertanian, kemungkinan masih akan tetap jauh di atas target 2% Federal Reserve. Hal yang paling dapat dirasakan adalah kenaikan harga beli konsumen untuk seluruh pengeluaran pokok harian. Istilah lunchflation disebutkan oleh para ekonom merupakan gambaran efek inflasi yang mempengaruhi biaya makan siang.
Photo by Erik Mclean
Bagi pekerja yang menggunakan kendaraan pribadi juga dihadapkan oleh kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Harga rata-rata BBM pada seluruh negara bagian di Amerika Serikat yang diberitakan oleh USA Today sebesar US$ 4 per galon. 1 galon BBM di Amerika Serikat kurang lebih setara dengan 3,78 liter. Kenaikan harga yang cukup signifikan dirasakan oleh para pekerja, karena sebelum pandemi harga BBM berada pada kisaran US$ 2,2 per galon. Bahkan menurut pengamat kenaikan harga BBM diprediksi dapat mencapai US$ 5 per galon.
Para pekerja yang memiliki anak yang masih kecil dan tidak memiliki pengasuh di rumah, juga harus mengeluarkan lebih banyak biaya penitipan anak mereka untuk layanan Day care. Terlebih menurut US Labor Department, harga makanan melonjak naik sebesar 9,4%. Lonjakan harga tersebut merupakan lonjakan terbesar yang terjadi sejak tahun 1981. Bayangkan komponen pengeluaran terbesar dari para pekerja di Amerika Serikat adalah pengeluaran untuk makan siang.
Photo by Thought Catalog on Unsplash
Menurut penuturan salah seorang pekerja yang dihadapkan realita kembali bekerja di kantor, kini makan siang dengan harga US$ 15 merupakan makan siang termurah yang bisa ia dapatkan. Bandingkan dengan harga makan siang sebelum pandemi, mulai dari US$ 7 sudah bisa mendapatkan makan siang yang layak. Kenaikan harga makanan membuat banyak pekerja menolak ajakan makan siang bersama dikarenakan kondisi batasan keuangan.
Para pekerja di Amerika Serikat merasakan gaji mereka tidak sebanding dengan inflasi. Biaya harian untuk berada di kantor yang naik secara signifikan, tidak dapat tercukupi dengan gaji yang didapati bila mengikuti kuantitas konsumsi yang sama saat sebelum mereka bekerja dari rumah. The Wall Street Journal memberitakan bahwa kenaikan harga makan siang yang melambung tinggi berdampak pada hubungan kerja yang merenggang, karena para pekerja akan semakin jarang makan siang bersama dengan rekan kerja.
Photo by Karolina Grabowska
Melihat fenomena lunchflation yang dialami oleh para pekerja di Amerika Serikat, beberapa perusahaan mempertimbangkan untuk memberikan bantuan sementara untuk para pekerjanya saat mereka beralih kembali bekerja di kantor. Pemberian insentif seperti makan siang gratis atau bersubsidi merupakan salah satu hal yang dilakukan oleh beberapa perusahaan untuk membantu kelancaran transisi work from home menjadi work from office.
Kemungkinan langkah pemberian insentif akan dilakukan oleh semua perusahaan di Amerika Serikat, mengingat memberikan subsidi makan siang bagi pekerja merupakan langkah untuk menghemat biaya perusahaan. Manfaat penghematan yang akan dirasakan untuk menekan biaya asuransi kesehatan yang dapat ditekan apabila semua pekerja sehat. Jadi buat para pekerja di Amerika Serikat, kini penghasilan mereka tidak sebesar sebelum keberingasan Covid-19 melanda. Kalau menurut kamu sebagai pekerja yang berada di Indonesia yang sudah kembali bekerja di kantor bagaimana? Apakah pengeluaran makan siangmu lebih besar dibandingkan sebelum Covid-19?