Jalan-jalan makin Nyaman Di Jakarta Bersama Konsep Complete Street

Penataan trotoar atau jalan bagi pejalan kaki dengan konsep complete street merupakan konsep yang telah diterapkan di berbagai kota di dunia. DKI Jakarta salah satu kota yang sedang ditata oleh pemerintah untuk menjadi salah satu kota yang menerapkan konsep complete streets.

 

Jalanan yang ada di kota adalah bagian penting yang tidak bisa lepas dari kehidupan penduduk. Jalanan seharusnya merupakan hak untuk semua orang, baik tua atau muda, pengendara atau pengendara sepeda, pengguna pejalan kaki atau kursi roda, pengendara bus bahkan pemilik toko. Sayangnya, terlalu banyak jalan yang dirancang hanya untuk mobil, atau lebih buruk lagi, kemacetan lalu lintas yang menjalar dimana-mana. Jalan-jalan sudah sepatutnya menjadi prioritas kebijakan pemerintah.

 

Mengusung konsep complete street merupakan konsep pembangunan yang mengutamakan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki saat melintasi trotoar. Bahkan complete street adalah pendekatan dalam merencanakan, merancang, dan membangun jalan yang memungkinkan akses aman bagi semua pengguna, termasuk pejalan kaki, pengendara sepeda, pengendara mobil, dan pengendara angkutan umum dari segala usia dan kemampuan.

 

Photo by Eko Herwantoro on Unsplash

 

Apa yang ingin diperbaiki oleh konsep complete street?

Jalan-jalan yang tidak menggunakan konsep complete street merupakan jalan yang tidak mempertimbangkan kebutuhan semua pengguna jalan. Jalan tersebut merupakan konsep yang sudah ketinggalan zaman. Jalan yang mengesampingkan tujuan pemanfaatan bagi semua penggunanya. Jalan yang tidak menggunakan konsep complete street menghasilkan yang ketidaknyamanan, terlebih fatal dapat mengakibatkan kematian bagi pejalan kaki atau pedestrian.

 

Photo source: WalkAbilityAsia.org

 

Seperti apa complete street itu?

Complete street merupakan proses dan pendekatan untuk desain jalan, tidak ada resep desain tunggal untuk sebuah complete street. Masing-masing penerapan complete street setiap kota memiliki keunikan. Tujuannya untuk merespons konteks kehidupan penduduknya. Sebuah complete street pada umumnya mencakup: trotoar, jalur sepeda (atau bahu jalan beraspal lebar), jalur bus khusus, halte transportasi umum yang nyaman dan mudah diakses, penyeberangan jalan yang aman, jarak median, jalur pejalan kaki yang mudah diakses, perpanjangan trotoar, jalur perjalanan yang lebih sempit, dan bundaran.

 

Photo by Rizkyta Putri on Unsplash

 

Jadi complete street merupakan konsep yang membawa kemungkinan jalan beroperasi secara aman, memiliki aksesibilitas semua pengguna, dan kenyamanan bagi pejalan kaki, pengguna sepeda, pengguna motor dan kendaraan bermotor lainnya. Beberapa contoh penerapan complete street di berbagai kota terlihat seperti perubahan pemandangan jalan yang menjadi lebih baik, penerangan jalan untuk pejalan kaki, infrastruktur hijau yang ramah lingkungan, furnitur jalan, fasilitas pengguna sepeda, marka jalan, penyeberangan jalan, dan permukaan jalan yang rata dan tahan lama.

 

Photo source: NycStreetDesign.info

 

Bagaimana DKI Jakarta mengusung konsep complete street?

Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, menjelaskan bahwa jalanan di DKI Jakarta ke depan tidak hanya dimiliki oleh kalangan bisnis, semua orang dapat menggunakan jalan. Salah satu jalan yang telah menjadi jalan yang dapat “dimiliki” oleh semua orang yaitu Jalan Sudirman. Anies Baswedan menyebut Jalan Sudirman sebagai jalan demokratis. Tidak hanya pengendara kendaraan bermotor, pejalan kaki mendapatkan pengalaman baru saat melintasi jalanan ibukota.

 

Photo by Yusron El Jihan on Unsplash

 

Bicara soal kenyaman pejalan kaki terletak pada trotoar, oleh karena itu saat ini pemerintah bekerja untuk menata jalan pedestrian yang ada di DKI Jakarta. Selain menata ulang jalur pedestrian, fasilitas lain yang akan disiapkan oleh pemerintah seperti jalur sepeda, jalur hijau, petunjuk jalan, dan pelengkap jalan seperti  lampu jalan, tempat duduk, tempat sampah, rambu lalu lintas, halte dan pelengkap jalan lainnya. Selain menambah kenyamanan bagi pejalan kaki, penataan ulang akan menambah estetika kota Jakarta.

 

Photo by Arif Maulana on Unsplash

 

Selain pembangunan fasilitas trotoar, Pemprov DKI Jakarta juga akan menata bagian atas trotoar. Penataan yang meliputi menurunkan kabel listrik, kabel fiber optic, kabel listrik, dan kabel telepon ke dalam Sarana Jaringan Utilitas Terpadu (SJUT). SJUT ini akan ditempatkan ke bawah tanah atau bawah trotoar. Terbayang, Jakarta akan menjadi nyaman dan aman bagi semua pengguna jalan. Jalanan akan menjadi rapih tanpa ada halangan kabel melintang yang dapat membahayakan penggunanya.

 

Photo by Muhammad Aziz Ali Mutia on Unsplash

  

Setelah membaca artikel yang satu ini bagaimana menurut kalian warga DKI Jakarta ataupun kalian yang bukan warga DKI Jakarta namun kerap menggunakan jalan ketika berada di Ibukota? Semakin nyaman dirasakan pastinya, semoga ke depan DKI Jakarta semakin aman dan nyaman untuk semua.

 

Photo by Arif Maulana on Unsplash