Sunisa Lee Peraih Emas Olimpiade Tokyo 2021, Melalui Semua Beban Berat Yang Dipikulnya

Pesenam putri Amerika Serikat (AS), Sunisa Lee, tak mampu menutupi kebahagiaan usai sukses menyabet medali emas Olimpiade 2020. Atlet berusia 18 tahun itu tampil nyaris tanpa cela dan berhasil menyabet emas di nomor semua alat atau all-around.

Sebuah peristiwa yang fantastis. Sunisa Lee masih merasa keberhasilannya meraih medali emas pada Olimpiade Tokyo 2021 adalah hal yang tak bisa terbayangkan. “Bahkan tidak terasa seperti kehidupan nyata" kata pemain berusia 18 tahun itu. Sunisa Lee adalah orang Amerika keturunan Hmong pertama yang berkompetisi di Olimpiade dan sekarang menjadi juara umum pada kelompok olahraga gimnastik wanita.

Bagaimana kemenangan Sunisa Lee menjadi hal yang fantastis bagi rakyat Amerika Serikat? Keikutsertaan Sunisa Lee pada cabang gimnastik Olimpiade Tokyo 2021 membawa beban berat bagi Amerika Serikat untuk tetap mempertahankan juara ke-17 kalinya. Kemenangan Sunisa Lee berhasil membuktikan dan mempertahankan 17 tahun kemenangan beruntun Amerika Serikat dalam kompetisi itu.

Photo source: popsugar.com

Terbayang bagaimana beban berat yang menyangkut pada pundak Sunisa Lee. Berada pada target untuk mempertahankan seorang diri dengan pengunduran diri Simone Billes, sang juara all-around Olimpiade sebelumnya, Tumpuan Amerika Serikat hanya pada Sunisa Lee seorang.

Namun penampilan bersejarah Lee, tidak hanya tertekan dengan beban sebagai satu-satunya harapan bagi Amerika Serikat. Sebelum Sunisa Lee berangkat ke Tokyo mewakili Amerika Serikat sebagai atlit pada cabang olahraga gimnastik, Sunisa Lee baru saja kehilangan paman dan bibi akibat terpapar COVID-19. Walau masih dalam keadaan berduka Sunisa Lee tetap harus berangkat ke Tokyo, dan pandemi COVID-19 masih terjadi.

Photo source: BringMeTheNews.com

Duka mendalam meninggalnya paman dan bibi Sunisa Lee, masih ditambah dengan kecelakaan yang dialami ayahnya saat membantu seorang tetangga memotong pohon. Ayah Sunisa Lee, John Lee, mengalami lumpuh dari pinggang ke bawah akibat terjatuh. Saat kepergiaan Sunisa Lee ke Tokyo, ayahnya sedang berjuang untuk sembuh melalui operasi tulang belakang. Belum lagi derita cedera patah tulang yang dia alami semakin menambah keinginan diri untuk berhenti berkarir sebagai pesenam atau atlet gimnastik.

Karir gimnastik Sunisa Lee dapat cemerlang tak ayal karena dukungan sang ayah mulai dari pertama kalinya. Sang ayah juga senantiasa membantunya melakukan trik di sekitar rumah, terkadang membuat ibunya khawatir. Sunisa Lee kerap melatih dirinya mulai dari melompat dari atas kasur, melakukan back-flip, dan aksi senamnya di area rumah. Hal tersebut membuat ibunda menjadi bosan dari rasa khawatir dan memutuskan untuk mendaftarkan Sunisa Lee di senam atau gimnastik.

Photo source: SocialLiteLife.com

Sarana yang terbatas untuk Sunisa Lee berlatih tidak membuat dirinya patah semangat, walau hanya dengan balok keseimbangan sederhana yang dibangun oleh sang ayah. Pada usia 16 tahun, ia telah membuktikan prestasi yang melampaui ekspektasi. Meraih medali emas di palang yang tidak rata, perunggu di latihan lantai, dan perak di all-around. Posisi tepat di belakang Biles yang berhasil diraihnya saat itu.

Tahun 2021, pada usia 18, Sunisa Lee kembali bergabung dalam daftar elit juara Olimpiade Amerika seperti Mary Lou Retton (1984), Carly Patterson (2004), Nastia Liukin (2008), Gabby Douglas (2012) and Simone Biles (2016) sebagai peraih juara pada kelas all-around. Sebuah prestasi juara medali emas yang diraihnya ditengah tragedi dan duka yang dialaminya.

Photo source: wavy.com

Sunisa Lee memulai dengan mencetak 14,6 pada nomor Yurchenko Vault, dengan melakukan gaya double-twisting. Hasil terbaiknya itu menempatkannya di posisi keempat sebagai starter. Kemudian Sunisa Lee berhasil meraih nilai 13,833 pada nomor balok keseimbangan setelah penyelamatan ajaib dalam upaya pencegahan jatuh ketika melakukan triple wolf turn. Selama latihan lantai Sunisa Lee, yang masih mengalami sakit pergelangan kaki yang dideritanya, membuat ia selalu menahan kala melakukan pendaratan.

Hal ini membuatnya hanya mendapatkan nilai 13,7. Sunisa Lee berhasil menjadi juara dan mengamankan gelarnya melalui nomor bar tidak ratanya yang spektakuler selama rotasi ketiga. Dengan skor kesulitan 6,8, skor yang paling sulit di dunia, Sunisa Lee berhasil mendapatkan nilai 8,5 dalam eksekusi yang memberikan nilai total 15,3. Hasil tersebut yang membawanya menjadi superstar global yang dikenal karena meningkatkan pada waktu yang berat.